Orang Yang Boleh Berbuka Dan Yang Wajib Berbuka

بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين أمَّا بعد

Ikhwah grup whatsapp Belajar Islam yang semoga dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita lanjutkan kajian kita tentang ibadah dan puasa Ramadhan bagian yang kelima. Pada kesempatan ini akan saya menyampaikan dua faedah yakni :

(1) Orang-orang yang boleh berbuka
(2) Orang-orang yang wajib berbuka

• Yang Pertama | Orang-orang yang boleh berbuka

Kalimat boleh berbuka menunjukkan pilihan, artinya dia bisa berbuka atau dia berpuasa. Orang-orang yang boleh berbuka adalah:

(1) Orang sakit

Orang sakit boleh berbuka kemudian ketika dia berbuka maksudnya dia tidak puasa, maka kewajibannya adalah qadha’ (menggantinya) di hari yang lain.

(2) Orang yang sedang safar (melakukan perjalanan jauh)

Ini pun sama, ketika dia tidak berpuasa (berbuka) maka kewajibannya adalah qadha’ (menggantinya) di hari yang lain. Untuk orang yang sakit dan orang yang safar, dalil nya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala didalam surah Al Baqarah 184.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain.” (QS Al Baqarah: 184)

(3) Orang yang boleh berbuka adalah orang yang sudah tua.

Orang yang sudah tua tentunya berat melakukan puasa maka dia boleh berbuka, kewajibannya adalah membayar fidyah. Yaitu setengah sha’ (±, 1 1/2 kg) makanan pokok atau kalau tidak setengah sha’ maka dengan satu paket makanan (nasi dan lauknya) untuk setiap harinya (dia tidak berpuasa). Apa dalilnya?

Dalilnya sama QS Al Baqarah: 184

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

“Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin.”

Abdullah Ibnu Abbas ketika menjelaskan ayat tersebut, beliau mengatakan, “Bahwa seorang laki-laki tua dan wanita tua yang tidak sanggup lagi melakukan puasa diwajibkan memberi makan kepada seorang miskin untuk satu hari puasa”. Demikian yang dijelaskan oleh Ibnu Abbas ketika menjelaskan ayat yang di atas.

(4) Wanita hamil dan menyusui.

Apa kewajibannya? Wanita hamil dan menyusui jika dia tidak berpuasa maka jawabannya adalah apa yang dikatakan oleh Abdullah Ibnu Abbas radhiyallahu ta’ala ‘anhuma. Abdullah Ibnu Abbas berkata ketika menjelaskan surat Al Baqarah: 184, beliau mengatakan:

والحبلى والمرضع إذا خافتا أفطرتا, وأطعمتا أن كل يوم مسكينا

“Orang yang sedang hamil dan menyusui jika mereka khawatir maka mereka diperbolehkan untuk berbuka dan diwajibkan kepadanya membayar makan untuk setiap hari satu orang miskin”

Beliaupun memerintahkan hamba sahaya miliknya yang sedang hamil untuk berbuka pada bulan Ramadhan, seraya berkata: “Kamu sama seperti orang tua yang tidak sanggup melakukan puasa, maka berbukalah dan berilah makan untuk setiap hari 1/2 sha’ biji gandum.”

• Yang Kedua | Orang-orang yang wajib berbuka

Orang-orang yang wajib berbuka adalah wanita haidh dan nifas, wanita haidh dan nifas tidak diberikan pilihan tapi diperintahkan untuk berbuka artinya tidak boleh dia puasa. Hal itu berdasarkan pernyataan Aisyah radhiyallahu ta’ala ‘anha, didalam hadits yang shahih yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan yang lainnya.

Kata Aisyah radhiyallahu ta’ala ‘anha:

كنا نحيض على عهد النبي صلى الله عليه وسلم فنؤمر بقضاء الصوم ولا نؤمر بقضاء الصلاة

“Adalah kami haidh pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat.”

Diperintahkan untuk mengqadha’ puasa artinya diperintahkan untuk berbuka (tidak boleh puasa), wanita haidh dan nifas berkewajiban mengqadha’ (menggantinya) di hari-hari lain ketika dia telah suci. Ikhwah Fiddin A’adzaniyallahu wa Iyyakum.

Inilah dua faedah yang ingin saya sampaikan,

(1) Orang-orang yang boleh berbuka.

√ Orang yang sakit kewajibannya adalah qadha’
√ Orang yang sedang safar kewajibannya adalah qadha’.
√ Orang yang sudah tua dan tidak mampu berpuasa, kewajibannya adalah membayar fidyah.
√ Wanita hamil dan menyusui ketika dia tidak berpuasa, kewajibannya adalah membayar fidyah.

(2) Orang-orang yang wajib berbuka.

√ Wanita haidh dan nifas.

Mudah-mudahan apa yang saya sampaikan pada kesempatan pagi hari ini dipahami dengan baik, tentunya bermanfaat bagi kita semua.

Akhukum fillah,
Beni Sarbeni Abu Sumayyah
Pondok Pesantren Sabilunnajah Bandung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Sign up
Lost your password? Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.