Keutamaan Menuntut Ilmu (bag 3) | Catatan 04 Muqaddimah Belajar Islam

Menuntut ilmu agama adalah jihad di jalan Allah

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين أمَّا بعد

Ikhwah grup whatsapp Belajar Islam yang semoga dimuliakan oleh Allah Rabbul alamin. Kita lanjutkan, bahasan tentang keutamaan Al-‘Ilmu Syari’ (ilmu agama) pada kesempatan ini kita lanjutkan poin berikutnya.

(6) Orang yang berilmu dan orang yang mempelajari ilmu syari’ dikeluarkan dari laknat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dalam hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits hasan riwayat Imam At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan yang lainnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَلاَ إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلاَّ ذِكْرَ اللهِ وَمَا وَالاَهُ وَعَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا

“Ketahuilah sesungguhnya dunia itu dilaknat dan dilaknat pula apa yang ada di dalamnya kecuali dzikir kepada Allah dan keta’atan kepadaNya, demikian pula orang berilmu dan orang yang mempelajari ilmu.”

Orang yang berilmu dan mempelajari ilmu akan keluar dari laknat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sementara dunia dan seisinya dilaknat kecuali dzikir kepada Allah, ta’at kepada Allah, orang yang berilmu dan orang yang mempelajari ilmu.

Karena itulah di antara wasiat Ali radhiyallahu ta’ala ‘anhu kepada Kumail bin Ziyad salah seorang muridnya. Ali Radhiyallahu ta’ala ‘anhu berkata:

 الناسُ ثلاثةٌ؛ فعالمٌ ربَّانيٌّ، ومتعلِّمٌ على سبيل نجاةٍ، وهَمَجٌ رِعَاعٌ أتباعُ كلِّ ناعقٍ يميلون مع كلِّ رِيح؛ لم يستضيئوا بنور العلم ولم يلجَئوا إلى ركنٍ وثيقٍ؛

“Manusia itu hanya ada tiga, yaitu:

1. Alimun rabbaniy: Orang yang memiliki ilmu dan memiliki kemampuan untuk mentarbiyyah (mendidik) manusia, mengajak manusia kejalan Allah Rabbul alamin.

2. Muta’allimun ala sabilin Najah : Seorang pelajar yang ada di atas jalan keselamatan. Dia belajar menuntut ilmu agama sesuai dengan Al-Quran dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengikuti perjalanan para shahabat dalam memahami dan melaksanakan agama ini.

3. Hamajun ri’a’ : Orang-orang rendahan yang prilakunya adalah atba’ kulli na’iq (أتباعُ كلِّ ناعقٍ) mengikut siapa saja yang bersuara, dia tidak punya prinsip dalam hidupnya.

Tidak memiliki manhaj (cara beragama) sehingga dia mengikuti siapa saja yang bersuara, mengikuti trend tanpa menimbang dari sudut Al-Quran dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi orang berilmu dan menuntut ilmu agama dikecualikan dari laknat Allah rabbul alamin.

(7) Menuntut ilmu dan mengajarkannya lebih utama daripada ibadah sunnah dan ibadah yang hukumnya fardhu kifayyah.

Karena menuntut ilmu agama itu hukumnya adalah fardhu ‘ain sebagaimanasabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ على كل مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu wajib atas setiap muslim.” (Hadits shahih riwayat Al-Baihaqi)

Artinya hukum menuntut ilmu agama adalah fardhu ‘ain, diwajibkan atas setiap muslim. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang hasan yang diriwayatkan oleh Imam At-Thabrani dalam Al Mu’jamul Al Ausath.

فَضْلُ الْعِلْمِ خَيْرٌ مِنْ فَضْلِ الْعِبَادَةِ وَخَيْرُ دِيْنِكُمُ الْوَرَعُ.

“Keutamaan ilmu agama lebih baik daripada keutamaan ibadah dan agama kalian yang paling baik adalah Al-Wara’ (ketaqwaan)”

Shahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ta’ala ‘anhu pernah berkata: “Orang yang berilmu lebih besar ganjarannya daripada orang yang berpuasa, shalat dan berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala” sebagaimana dikutip dalam kitab  Al-‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 133).

Demikian pula shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ta’ala ‘anhu beliau pernah berkata: “Sungguh aku mengetahui satu bab ilmu tentang perintah dan larangan lebih aku sukai daripada 70 kali melakukan jihad di jalan Allah” (Kitab Al-Faqih wal Mutafaqih)

Ibnul Qayyim mengomentari perkataan Abu Hurairah diatas, beliau berkata: “Jika shahih pernyataan Abu Hurairah demikian maknanya, adalah lebih aku sukai daripada jihad tanpa ilmu, karena amal tanpa ilmu kerusakannya lebih banyak daripada kebaikannya.”

Perkataan Abu Hurairah di atas, maksudnya daripada 70 kali melakukan jihad yang tanpa ilmu walaupun di  jalan Allah. Kenapa? Karena amal yang dilakukan tanpa ilmu lebih besar kerusakannya daripada kebaikannya.

Imam Hasan Al-Basripun pernah berkata: “Orang yang berilmu lebih baik daripada orang yang zuhud terhadap dunia dan orang yang bersungguh-sungguh didalam ibadah”

(8) Ilmu agama adalah kebaikan didunia.

Sebagaimana di dalam do’a yang seringkali kita baca:

ربنا آتِنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة، وقِنا عذاب النار

“Ya Allah, berikanlah kebaikan bagi kami di dunia….. ” (Mutafaqun ‘alaih)

Apa yang dimaksud dengan hasanah atau kebaikan di dunia ini? Dijelaskan oleh Imam Hasan Al Bashri, beliau mengatakan

⇒ Yang dimaksud dengan kebaikan di dunia adalah ilmu agama dan ibadah

⇒ Yang dimaksud dengan kebaikan di akhirat adalah surga.

Demikian penjelasan dari Imam Hasan Al Basri.

(9) Menuntut ilmu agama adalah jihad di jalan Allah.

Oleh karenan itu Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits hasan yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan yang lainnya. Beliau bersabda:

مَنْ دَخَلَ مَسْجِدَنَا هَذَا لِيَتَعَلَّمَ خَيْرًا , أَوْ يُعَلِّمَهُ كَانَ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللهِ , وَمَنْ دَخَلَ بِغَيْرِ ذَلِكَ كَانَ كَالنَّاظِرِ إِلَى مَا لَيْسَ لَهُ

“Barangsiapa yang memasuki masjid kami ini (masjid Nabawi) dengan tujuan mempelajari kebaikan atau mengajarkannya maka dia laksana orang yang berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala  dan barang siapa yang memasukinya dengan tujuan selain itu maka dia laksana orang yang sedang melihat sesuatu yang bukan miliknya”

Shahabat Abu Darda radhiyallahu ta’ala ‘anhu pernah berkata: “Barangsiapa siapa berpendapat bahwa pergi mencari ilmu tidak termasuk jihad sungguh dia kurang akalnya”. Maksudnya orang yang berpendapat bahwasanya pergi mencari ilmu bukan bagian daripada jihad itu orang yang kurang akalnya.

Demikianlah sebagian keutamaan ilmu syari’ yang bisa saya sampaikan, mudah-mudahan apa yang saya sampaikan ini menjadi ilmu bagi kita dan memotivasi kita agar bersemanggat didalam menuntut ilmu agama.

In sya Allah pada kesempatan selanjutnya akan saya sampaikan adab atau etika seorang penuntut ilmu agama beserta syarat-syarat yang dengannya kita bisa sukses dalam menuntut ilmu agama.

Akhukum Fillah,
Beni Sarbeni Abu Sumayyah
Pondok Pesantren Sabilunnajah Bandung

Materi ini merupakan Catatan penulis hasil mendengarkan kuliah online BIS (Belajar Islam) Materi 04 – Muqaddimah “ Keutamaan Menuntut Ilmu (bag.3) ” yang disampaikan oleh Ustadz Beni Sarbeni Abu Sumayyah hafizahullah

Insyallah pada pertemuan selanjutnya akan lanjut ke Materi 05 – Adab-adab Penuntut Ilmu Agama (bag.1)

dipublish di moeslimart.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *