Keutamaan Menuntut Ilmu (bag 2) | Catatan 03 Muqaddimah Belajar Islam

keutamaan Ilmu

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين أمَّا بعد

Ikhwah grup whatsapp Belajar Islam yang semoga dirahmati oleh Allah rabbul alamin. Kita lanjutkan kajian tentang ilmu, yang pada kesempatan ini akan saya sampaikan keutamaan ilmu syari’ beserta dalil-dalilnya.

Sebenarnya banyak sekali keutamaan ilmu syari’ (ilmu agama Islam) bahkan Imam Ibnu Qayyim al-Jauzi menyebutkan lebih dari 100 keutamaan ilmu syari’. Saya akan sebutkan sebagian di antaranya, sebagaimana yang ditulis dalam kitab “Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga”. Di antara keutamaannya, adalah:

(1) Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan ahlul ‘ilmi (ahli ilmu agama) sebagai saksi untuk kalimat tauhid (kalimat yang mulia).

Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala :

شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Allah menyatakan bahwa tidak ada illah yang berhak diibadahi dengan benar selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahaperkasa, Maha bijaksana.” (QS Ali-Imran: 18)

Di dalam ayat ini Allah jadikan ahli ilmu sebagai saksi akan kalimat yang agung (La ilaha illallah) tentunya ini merupakan rekomendasi dari Allah tentang keadilan orang-orang yang berilmu. Oleh karena itu dalam sebuah hadits hasan yang diriwayatkan oleh Imam Al-‘Uqayli dan Imam ibnu Abi Hatim. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يحمل هذا العلم من كل خلف عدوله ينفون عنه تحريف الغالين وانتحال المبطلين وتاويل الجاهلين

“Ilmu ini akan dibawa oleh para ulama yang adil (terpercaya) dari tiap generasi, mereka akan memberantas penyimpangan yang dilakukan oleh orang yang ghuluw (melampaui batas), menolak kebohongan pelaku kebathilan dan takwil yg dilakukan oleh orang-orang bodoh.” (Hadits riwayat Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Syaraf Ash-shabil)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan:

يحمل هذا العلم من كل خلف عدوله

“Bahwa yang akan membawa ilmu ini pada setiap generasi adalah orang-orang yang adil.”

Ini merupakan pujian dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk ahlul ‘ilmi, tentunya ilmu yang dimaksud sebagaimana yang disampaikan pada kesempatan sebelumnya, yaitu ilmu yang bersumber dari Al-Quran dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perkataan para shahabat radhiyallahu ta’ala ‘anhum.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauzi dan Imam Adz-Dzahabi bahwa ilmu itu, adalah:

√ Firman Allah subhanahu wa ta’ala,

√ Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan

√ Perkataan para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Demikian pula yang dijelaskan oleh Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar Al ‘Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari’, ketika beliau menjelaskanfirman Allah subhanahu wa ta’ala : 

وقل ربّ زدنيِ علما

“Dan katakanlah oleh mu (Muhammad), Ya Allah, tambahkanlah aku ilmu.”

Beliau menjelaskan ilmu yang dimaksud adalah:

√ Yang dengannya seseorang mengenal Allah subhanahu wa ta’ala.
√ Yang dengannya seseorang mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
√ Yang dengannya seseorang mengetahui kewajibannya sebagai seorang muslim. 

(2) Orang yang berilmu, akan Allah angkat derajatnya di dunia dan di akhirat.

Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala :

يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَـٰتٍۢ ۚ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS Mujadilah: 11)

⇒ Allah akan mengangkat derajat mereka di dunia maupun di akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

“Sungguh Allah mengangkat dengan Al-Quran beberapa kaum dan Allah pun merendahkan beberapa kaum dengannya” (Hadits shahih riwayat Muslim nomor 817)

Allah mengangkat beberapa kaum dengan Al-Quran (yaitu) mereka yang berusaha untuk. mempelajari isi kandungan Al-Quran, karena Al-Quran adalah ilmu dan berusaha pula untuk mengamalkannya. Adapun orang-orang yang direndahkan oleh Al-Quran adalah orang-orang yang meninggalkan Al-Quran, tidak mau mempelajarinya apalagi mengamalkannya.

Imam Sufyan ibnu ‘Uyainah rahimahullah, sebagaimana disebutkan dalam kitab Al ‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu, beliau berkata: “Orang yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah di antara hamba-hambanya adalah para Nabi dan para ulama.”

⇒ Imam Sufyan ibnu ‘Uyainah rahimahullah, beliau wafat tahun 198 Hijriyyah.

Karena tugas mereka sama, (yaitu) mengajak manusia kepada agama tauhid, ibadah hanya kepada Allah dan mengajak mereka untuk meninggalkan kesyirikan. Itulah tugas para Nabi. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala :

ولقد بَعَثْنَا فِى كُلِّ أُمَّةٍۢ رَّسُولًا أَنِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجْتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَ ۖ

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thaghut itu.” (QS An-Nahl: 36)

⇒ Thaghut yaitu segala sesuatu yang diibadahi selain Allah subhanahu wa ta’ala.

Demikian pula para ulama mereka berdakwah sebagaimana yang didakwahkan oleh para nabi, karena para ulama adalah pewaris para Nabi.

الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ

“Ulama adalah pewaris para Nabi.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

(3) Orang yang memiliki ilmu agama dan mengamalkannya dengan baik adalah orang-orang yang takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana firman Allah rabbul alamin:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepadaNya, hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28)

Oleh karena itu shahabat ‘Abdullah ibnu Mas’ud radhiyallahu ta’ala ‘anhu sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabrani dan Imam Ibnu Abil Barr, beliau berkata: “Cukuplah rasa takut kepada Allah disebut sebagai ilmu dan cukuplah tertipu dengan tidak mengingat Allah disebut sebagai kebodohan.”

Karena ilmu yang sejati adalah ilmu yang membuahkan amal, ilmu yang membuahkan rasa takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala sehingga seorang hamba senantiasa menjaga hak Allah Rabbul alamin.

(4) Ilmu agama ini merupakan karunia Allah yang sangat agung. Di antara dalilnya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala :

 وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ ۚ وَكَانَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ عَظِيمًا

“Dan Allah telah mengajarkan kepadamu (Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wa sallam) ilmu, sesuatu yang sebelumnya engkau tidak tahu dan Karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu itu sangat besar.” (QS An-Nissa’: 113)

Allah mengatakan karunia Allah untukmu sangat besar, sebelumnya Allah mengatakan:

 وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ

“Bahwa karunia Allah yang Allah berikan kepadamu adalah ilmu.”

Ini menunjukkan bahwa ilmu adalah sebesar besar karunia yang Allah berikan kepada seorang hamba.

(5) Paham dalam masalah agama termasuk tanda-tanda kebaikan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah maka Allah akan pahamkan di dalam masalah agama.” (Hadits riwayat Bukhari nomor 71)

Imam Nawawi rahimahullah dalam kitabnya Syarah Shahih Muslim, beliau menjelaskan hadits di atas. Beliau berkata di dalam hadits ini terdapat keutamaan ilmu, mendalami agama dan motivasi untuk mempelajarinya, hal itu karena ilmu agama akan menuntunnya untuk bertaqwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Karena ilmu agama akan menuntun bagaimana dia bertaqwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Ikhwah sekalian hanya lima yang bisa saya sampaikan pada kesempatan kali ini dan in sya Allah pada kesempatan berikutnya akan saya sampaikan di antara keutamaan ilmu agama. Mudah-mudahan yang saya sampaikan ini bermanfaat.

Akhukum fillah,

Beni Sarbeni Abu Sumayyah
Pondok pesantren Sabilunnajah Bandung

Materi ini merupakan Catatan penulis hasil mendengarkan kuliah online BIS (Belajar Islam) Materi 03 – Muqaddimah “ Keutamaan Menuntut Ilmu (bag.2) ” yang disampaikan oleh Ustadz Beni Sarbeni Abu Sumayyah hafizahullah

Insyallah pada pertemuan selanjutnya akan lanjut ke Materi 04 – Keutamaan Menuntut Ilmu (bag.3)

dipublish di moeslimart.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *