Adab-adab Penuntut Ilmu Agama (bag.1) | Catatan 05 Muqaddimah Belajar Islam

Kalaulah ada satu perkara agama yang dianggap baik, niscaya mereka akan mendahului kita untuk melakukannya.


الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين أمَّا بعد

Ikhwah grup whatsApp Belajar Islam yang semoga dirahmati oleh Allah rabbul alamin. Pada kesempatan ini kita lanjutkan kajian yang masih berkaitan dengan masalah keutamaan ilmu agama dan adab-adab seorang penuntut ilmu agama. Pada kesempatan kali ini saya akan menyampaikan tentang adab seorang thalibul ilmi (penuntut ilmu) terhadap diri sendiri.

Adab seorang penuntut ilmu ada yang berkaitan dengan Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang tua, diri sendiri dan gurunya, dalam kajian ini saya akan membahas dua adab saja yaitu:

1) Adab seorang penuntut ilmu terhadap dirinya sendiri

2) Adab seorang penuntut ilmu terhadap gurunya.

Untuk adab yang lainnya in sya Allah akan kita bahas di dalam kajian kitab Syarhus Sunnah yang isinya tentang manhaj cara kita beragama dan bagaimana aqidah kita. Disebutkan di dalam buku Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga, bahwa adab seorang penuntut ilmu terhadap dirinya sendiri di antaranya, adalah:

(1) Hendaklah dia mengetahui, bahkan meyakini bahwa menuntut ilmu adalah ibadah dan merupakan kefardhuan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ على كل مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah nomor 224)

Karena ia merupakan ibadah tentunya di antara hal yang penting dalam beribadah dia niatkan karena Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala  berfirman :

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ

“Dan tidaklah mereka diperintahkan oleh Allah kecuali untuk melakukan ketaatan dengan ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala.” (QS Al-Bayyinah: 5)

(2) Seorang penuntut ilmu hendaknya memperhatikan tazkiyatun nufus (penyucian jiwa) yang akan membawanya pada ketaatan dan menjauhkan dirinya dari perbuatan maksiat.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

“Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu). Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS Asy-Syam: 9-10)

Imam Ibnu Jama’ah dalam kitabnya Tadzkiratu as-Sami’ wa al-Mutakallim, beliau mengatakan: “Seorang thalibul ‘ilmi membersihkan hatinya dari segala sifat kotor, dengki, hasad, iri serta keyakinan dan perangai yang buruk agar hatinya menjadi baik dalam menerima dan menghapalkan ilmu, menelaah makna-maknanya yang dalam dan hakikat-hakikatnya yang masih samar.”

Jadi seorang thalibul ‘ilmi hendaknya membersihkan jiwanya, apalagi syaithan tahu tentunya bahwa seorang thalibul ‘ilmi adalah calon para ulama dan para ulama adalah pewaris para Nabi. Oleh karena itu syaithan senantiasa menghembuskan (mendorong) para thalibul ‘ilmi untuk melakukan hal-hal yang kotor, hal-hal yang bisa merusak hati dan jiwanya. Misalnya: Iri, dengki di antara thalabul ‘ilmi.

Sampai-sampai para ulama mengatakan: “Hasad iri dan dengki yang terjadi antara thalabul ‘ilmi kadang lebih besar daripada hasad atau iri dengki yang terjadi di antara orang-orang kaya.”

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Sesungguhnya didalam tubuh itu ada segumpal daging apabila segumpal daging itu baik maka baiklah seluruh jasadnya, dan apabila segumpal daging itu rusak maka rusaklah seluruh tubuhnya, ketahuilah segumpal daging itu adalah hati.”

Sahl ibnu ‘Abdillah At-Tusyturi seorang ulama yang wafat pada tahun 283 Hijriyyah (rahmatullah ‘alayh) beliau pernah mengatakan: “Hati yang di dalamnya terdapat sesuatu yang dibenci Allah maka akan terhalang menerima cahaya ilmu.”

Sementara ilmu adalah cahaya, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Syafi’i rahmatullah ‘alaih:

شَكَوْت إلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي فَأَرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ وَنُورُ اللَّهِ لَا يُهْدَى لعاصي

“Aku mengadu kepada guruku (Imam Muwaqi) kenapa hapalanku menjadi buruk, lalu guruku mengajarkan aku agar senantiasa meninggalkan maksiat karena sesungguhnya ilmu adalah cahaya cahaya Allah tidak akan diberikan kepada para pelaku maksiat.”

Adab yang berikutnya adalah:

(3) Seorang thalibul ilmi wajib mengikuti dan meneladani para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kita merujuk kepada Al-Quran dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi di dalam memahami Al-Quran dan Sunnah. Demikian pula dalam mempraktekan Al-Quran dan sunnah kita butuh teladan. Lalu siapa teladan kita?

Jika bukan para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena merekalah yang direkomendasikan oleh Allah rabbul alamin.Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat At-Taubah ayat: 100,

وَٱلسَّـٰبِقُونَ ٱلْأَوَّلُونَ مِنَ ٱلْمُهَـٰجِرِينَ وَٱلْأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحْسَـٰنٍۢ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah.”Ayat ini menunjukkan bahwasa Allah meridhai para shahabat juga setiap orang yang mengikuti langkah atau jejak para shahabat. Artinya kalau kita ingin diridhai oleh Allah rabbul alamin maka kita ikuti para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memahami dan mempraktekan Al-Quran dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  Oleh karena itu, Imam Al Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah menulis sebuah kaidah dalam kitabnya tafsir Al-Quranil adzim (tafsir Ibnu Katsir). Bunyi dari kaidah tersebut adalah:

لوكان خيرا لسبقونا إليه

“Kalaulah ada satu perkara agama yang dianggap baik, niscaya mereka akan mendahului kita untuk melakukannya.”

Artinya dalam praktek beragama kita harus lihat, pernahkah para shahabat melakukannya ? atau bahkan tidak pernah ? Kalau pernah melakukannya maka itu adalah kebaikan, kalau tidak pernah itu menunjukkan bahwa itu bukan kebaikan.

Yang kita bicarakan di sini adalah masalah ibadah bukan urusan dunia. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan di dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud dan yang lainnya. Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ

“Sungguh barangsiapa yang hidup di antara kalian setelahku, dia akan melihat bagaimana perpecahan di antara umat ini (perbedaan) yang sangat banyak, maka hendaklah kalian memegang teguh ajaranku dan ajaran Al-khulafa’i Al-Mahdiyyin Ar-rasyidin.”

Para shahabat secara khusus adalah Al-Khulafa’i yang empat, yaitu; Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali radhiyallahu ta’ala ‘anhum. Adab yang berikutnya, adalah:

(4) Hendaknya seorang thalibul ‘ilmi menghiasi dirinya dengan akhlaq yang mulia serta menjauhi akhlaq dan adab jelek.

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Beliau bersabda:

إن من خياركم أحسنكم أخلاقا 

“Sesungguhnya orang yang paling baik diantara kalian adalah orang yang paling baik akhlaqnya.”

Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang lain beliau bersabda:

إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق

“Sungguh aku diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlaq yang terpuji.”

(5) Selalu instropeksi diri dan tidak mencari alasan untuk membenarkan kesalahan-kesalahan.

Artinya jika kita dapati bahwa diri kita salah akui bahwa itu merupakan kesalahan dan segera kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Karena tidak akan ada manusia yang ma’shum, kecuali para Anbiyya’ (para Nabi) adapun selain para nabi tidak ada yang ma’shum dari kesalahan.

Maka sekali kita melakukan kesalahan, akui itu merupakan kesalahan dan bersemanggat (berniat) untuk merubahnya (memperbaikinya). Ada beberapa hal yang dapat membantu seorang penuntut ilmu untuk mengintrospeksi diri.

(1) Berdo’a kepada Allah ta’ala dengan ikhlas.

(2) Berusaha menghilangkan gangguan dan kesibukan ketika kita melakukan introspeksi.

(3) Menerima nasehat yang benar.

(4) Meminta nasehat dari para ulama dan orang-orang shalih.

Pada kesempatan ini saya hanya bisa menyebutkan 5 di antara adab seorang thalibul ilmi kepada dirinya sendiri. Mudah-mudahan apa yang saya sampaikan ini bermanfaat.

Akhukum Fillah,
Beni Sarbeni Abu Sumayyah
Pondok Pesantren Sabilunnajah Bandung

Materi ini merupakan Catatan penulis hasil mendengarkan kuliah online BIS (Belajar Islam) Materi 05 – Muqaddimah “Adab-adab Penuntut Ilmu Agama (bag.1) ” yang disampaikan oleh Ustadz Beni Sarbeni Abu Sumayyah hafizahullah Insyallah pada pertemuan

selanjutnya akan lanjut ke Materi 06 – Adab-adab Penuntut Ilmu Agama (bag.2)

dipublish di moeslimart.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *